DR.AL HABIB ABU BAKAR AL ADENI BIN
ALI AL MASYHUR
RAHASIA HADIST JIBRIL BAGI
MENGHADAPI AKHIR ZAMAN
Episode 1,2,3
Silahkan klik
Url berikut episode 1 : http://youtu.be/p4_jL0JuXxM
Silahkan klik Url
berikut episode 2 : http://youtu.be/tfbbVdYsCew
Silahkan klik
Url berikut episode 3 : http://youtu.be/NMbUvbmfu0g
MOHON BERIKAN
LIKE/ SUKA DAN KLIK
SUBSCRIBER / BERLANGGANAN
Mengenal
Sosok dan Pemikiran Al Habib Abubakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur
Hadramaut sejak belasan abad yang
silam dikenal sebagai kawasan yang melahirkan kaum sholihin dan para ulama,
dari sanalah muncul para wali dan dai yang mengenalkan manusia pada Tuhannya.
Dari masa ke masa Hadramaut selalu dihuni oleh manusia-munusia terpilih yang
menjadi penyambung lidah nubuah. Dewasa ini kita kenal para ulama asal
Hadramaut yang sangat luar biasa, di tanah air nama al-Habib Salim Asyathiri
dan al-Habib Umar bin Hafidz tidaklah asing di telinga, lantaran keduanya
sering berkunjung ke Indonesia dan mempunyai murid yang tersebar diberbagai
pelosok negeri ini.
Sedangkan di Hadramaut sendiri ada
seorang ulama besar yang dikenal oleh publik Yaman sebagai cendikiawan muslim,
meski di Indonesia namanya tidak sering terdengar. Beliau adalah al-Habib
Abubakar al-Adni bin Ali al-Masyhur, seorang ulama yang mempunyai pemikiran
cemerlang di Abad ini, sosok dan kepribadiannya adalah ulama rabbani yang
sesungguhnya.
Dilahirkan di kota Ahwar pada tahun
1366 H. Dari keluarga yang cinta ilmu dan dakwah, sehingga sejak beliau masih
belia kedua orang tuanya telah membuatnya hafal al-Quran. Beliau belajar pada
para ulama yang berada di kawasan Hadramaut, seperti Ahwar, Aden, dan
sekitarnya.
Sejak berumur empat belas tahun
beliau telah dilatih oleh ayahnya untuk berdakwah, beliau bercerita bahwa
diusia yang cukup muda itu sang ayah telah memerintahnya untuk membuat konsep
khutbah jumat, setelah itu dibaca didepan sang ayah sebelum akhirnya
disampaikan di mimbar.
Ketika ada orang bertanya akan
pengaruh orang tua pada beliau, beliau menjawab: hampir disemua sisi hidupku,
aku tidak lepas dari pengaruh orang tuaku. Ayahku adalah sosok yang sangat
disiplin pada waktu, beliau sangat perhatian pada pendidikan keluarga termasuk
pendidikanku dan saudara-saudaraku, disamping itu beliau adalah pendidik yang
mengajarkan arti dan tujuan hidup ini padaku. Dari prilakunyalah aku banyak
belajar tentang arti hidup ini, disamping kerap kali aku mendengar
ceramah-ceramah beliau dan pelajaran-pelajaran yang disampaikan pada umat.
Sering aku menyaksikan cucuran air
mata beliau ditengah malam saat beliau membaca al-Quran atau bermunajah pada
Allah.
Disamping belajar pada para ulama
secara tradisional beliau juga belajar di sekolah hingga lulus dari Universitas
Aden jurusan tarbiah.
Dimasa remaja, beliau menyaksikan
intimedasi dan tekanan yang dilakukan oleh pemeritahan komunis pada rakyat
Yaman terutama pada para tokoh dan ulama, termasuk pada keluarga beliau. Hal
ini membuat beliau keluar dari tanah kelahirannya menuju Saudi Arabia, kejadian
itu beliau tulis dalam sebuah karya sastera yang berjudul al-khuruj min
dairatul hamra.
Sesampainya di hijaz beliau
diperintahkan oleh sang ayah untuk menjadi Imam disalah satu masjid di kota
Jiddah sekaligus sebagai khotib dan guru. Mula-mula beliau ingin melanjutkan
studinya ke al-Azhar, Mesir. Namun orang tua beliau kurang berkenan dan bahkan
menganjurkan untuk belajar pada al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf.
Rupanya al-Habib Abdul Qadir membuat
beliau terlena dalam samudera ilmu dan makrifah sehingga keinginan beliau untuk
kemesir menjadi sirna. Dalam masalah ini beliau bercerita “keinginanku untuk
belajar kemesir menjadi lenyap setelah aku berjumpa dengan al-Habib Abdul
Qadir, sebab tujuan dan keinginanku telah ku jumpai di kota ini, sesuatu yang
ku temukan pada diri al-Habib Abdulqadir adalah luasnya masyhad, ilmu
yang memadai, kejernihan akal, dan kesungguhan orentasi serta akhlak nubuwah
yang sempurna”
Maka sejak saat itu beliau dekat
dengan sang guru ini, entah berapa puluh kitab yang dibaca didepan gurunya,
hingga akhirnya beliau menjadi salah satu murid sitimewa al-Habib Abdul Qadir
Assegaf, dan beliau sendiri telah menulis riwayat hidup sang guru dengan
lengkap.
Sejak enyahknya kaum komunis dari
Yaman selatan, dan terjadinya persatuan antara Yaman selatan dengan Yaman
utara, beliaupun pulang ke Yaman dengan membawa pemikiran cemerlang didalam
menciptakan kehidupan yang kondusif dan damai di Negara Yaman, beliau termasuk
ulama pertama yang mempropagandakan persatuan pemikiran dan jiwa pada
masyarakat Yaman setelah Negara mereka bersatu.
Disinilah kiprah beliau mulai
tampak, beliau membuka puluhan pondok pesantren diberbagai pelosok negeri
Yaman, disamping mendirikan pusat-pusat pendidikan yang jumlahnya tidak kurang
dari 83 cabang.
Beliau mampu menggabungkan system
pendidikan akademi moderen dan system pendidikan tradisional. Sehingga
mayoritas murid-murid beliau adalah para sarjana dan cendikiawan yang ada di
Yaman. perhatian beliau pada karya-karya ilmiah yang sangat luar biasa
menuntut belau untuk mendidirikan pusat-pusat penelitian dan kajian untuk para
pelajar.
Beliau juga aktif mengadakan seminar
dan kajian intensif seputar dakwah dan ilmu keislaman, begitu juga beliau
banyak mendidirikan forum dan klub-klub atau yang lebih dikenal dengan istilah
muntadayat diberbagai daerah di Yaman.
PEMIKIRAN DAN GAGASAN
Yang istimewa pada sosok al-Habib
Abubakar ini adalah gagasan-gagasan cemerlang beliau didalam menyelesaikan
berbagai problem umat. Yang beliau tuangkan dalam karya-karya beliau yang saat
ini telah mencapai 150 lebih dalam berbagai disiplin ilmu. Mulai dari ilmu
Fiqih, sejarah, sastra, fikroh, dakwan danmanahajiah. Bahkan beliau
telah menghasilakan beberapa karya yang belum pernah ditulis oleh ulama
sebelumnya.
Inilah yang membuat penulis tertarik
menulis sosok dan pemikiran al-Habib Abubakar al-Adni al-Masyhur.
Ada beberapa pemikiran menarik yang
bersifat global yang menurut hemat penulis sangat pas untuk di mengerti oleh
kaum muslimin Indonesia. Diantaranya adalah pemikiran beliau tentang madrasah
abawiyah yang mempunyai lawan madrasah anawiyah. Beliau memang
mempunyai istilah-istilah tersendiri didalam berbagai pemikiran baru yang
beliau gagaskan. Seperti Fiqih Tahawwulat, Sunnah mawaqif,mutsallats
almadmuj, manhajul wai wassalamah dan berbagai istilah-sitilah menarik
lainnya.
FIQIH TAHAWWULAT
Selama ini kum muslimin mengenal
rukun agama ada tiga, yaitu ; Islam, Iman dan Ihsan. Tiga hal inilah yang harus
di ketahui oleh setiap orang mukallaf, dan sumber dari tiga dasar agama ini
berasal dari hadits Nabi yang terkenal dengan hadits Jibril. Yaitu hadist
ketika malaikat Jibril datang pada Rasulullah SAW dengan menyerupai seorang
manusia, Jibril datang dan bertanya tentang tiga hal, yaitu Iman, Islam dan
Ihsan. Selanjutnya Jibril bertanya kapan kiamat? Yang dijawab oleh Rasulullah
dengan jawaban; yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.
Kemudian malaikat Jibril bertanya tentang tanda-tandanya, setelah puas dengan
jawaban Nabi. Malaikat Jibril pergi, setelah itu Rasulullah bersabda pada para
sahabat yang menyaksikan semua itu „dia itu jibril yang mengajarkan agama
kalian“.
Dari hadits itulah ulama mengambil
kesimpulan bahwa rukun agama ada tiga, namun menurut habib Abubakar rukun agama
ada empat, dengan tambahan mengetahui tanda-tanda kiamat. Rukun ke empat ini
diistilahkan oleh beliau dengan istilah fiqih tahawwulat.
Bedanya dengan tiga rukun yang
pertama, rukun keempat bersifat elastis atau selalu berobah tergantung marhalah
(masa)nya. Sedangkan yang lainnya bersifat baku yang tidak bisa berobah
dengan peredaran waktu dan zaman.
Adapuan faidah mengetahui fiqih ini
adalah: mengetahui sikap yang benar dalam menyikapi berbagai fitnah yang timbul
disepanjang masa, dengan berdasarkan nasnabawiy. Dimana fitnah yang
menjadi tanda-tanda kiamat akan terjadi sepanjang masa, sejak masa Rasulullah
hingga pada puncak terjadinya kiamat.
Istinbat/pengambilan fiqih
tahawwulat ini berdasarkan teks-teks suci/al-Quran dan Hadits dengan
menggabungkan antara sejarah peradaban dan realitas masyarakat saat ini.
Menurut beliau, tidak sedikit para
ulama yang terjebak menjadi pembantu Iblis dan Dadjjal tanpa menyadari akan hal
itu, penyebabnya adalah mereka tidak memahami fiqih tahawwulat.
Beliau juga mencontohkan sikap para
sahabat dan ulama yang menunjukan akan pemahaman mereka terhadap fiqih
tahawwulat ini, seperti sikap Imam Ali bin Abi Tolib ketika menghadapi fitnah
pemberontak dan khawarij, Ibnu Abbas dan Abu Hurairah menurut beliau termasuk
salah satu dari sahabat yang faham betul akan fiqih ini.
Sedangkan dari kalangan ulama beliau
mencontohkan sikap al-Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa yang hijrah dari Basrah
menuju Hadramaut, atau sikap Faqih al-Muqaddam yang mematahakan pedangnya dan
bergabung dalam dunia tasawuf.
Yang jelas pemikiran beliau ini
sangat membantu generasi muda dalam menyikapi berbagai persoalan yang timbul
saat ini, orang yang faham akan fiqih ini akan bersikap dengan dasar nas
nabawiy, bukan dengan dasar emosional atau ikut-ikutan. Masalah ini distilahkan
oleh beliau dengan sunnah al-Mawaqif (cara bersikap/berindak).
Beliau adalah sahabat dari guru mulia dari habib Umar Bin Hafidz, Habib Ali Al Jufri,
habib Kadzim AsSeqqaf, Habib Muhammad Bin Abdurrahman AsSeqqaf dll,
beliau banyak membangun madrasah (lebih dari 20) di
mana mana (termasuk Dar Al Mustafa dan Dar Al Zahra di Tarim) pesan singkat
beliau kepada para pencari Ilmu,
" Saat kamu sholat/berdoa/berdzikir kamu yakin
bahwa Allah mendengar dan melihat hatimu, 'jangan pernah' berharap/menyangka
bahwa ketika kamu berbuat suatu perbuatan dosa bahwa Allah tidak
melihatnya!"
Silahkan klik
Url berikut episode 1 : http://youtu.be/p4_jL0JuXxM
Silahkan klik
Url berikut episode 2 : http://youtu.be/tfbbVdYsCew
Silahkan klik
Url berikut episode 3 : http://youtu.be/NMbUvbmfu0g
MOHON BERIKAN LIKE/ SUKA DAN KLIK
SUBSCRIBER / BERLANGGANAN
kunjungi
blog kami :
FOLLOW INSTAGRAM KAMI
: safiraskincare
FOLLOW TWITTER KAMI :
@dr_sayyid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar